Perkembangan Perahu pada Masa Kerajaan di Nusantara

Perkembangan Perahu pada Masa Kerajaan di Nusantara

Perkembangan Perahu pada Masa Kerajaan di Nusantara

Perkembangan teknologi maritim di Nusantara tidak hanya berhenti sampai pada masa Neolitik saja, akan tetapi perkembangan teknologi transportasi laut berkembagn pesat pada awal masa Hindu-Budha di Nusantara. Salah satu bukti terkuat yang menggambarkan perahu tradisional Nusantara pada masa Hindu – Budha adalah relief-relief yang dipahatkan pada Candi Borobudur. Bentuk-bentuk perahu yang terdapat pada relief-relief candi Borobudur antara lain

Perahu-perahu besar dengan layar lebar yang dapat memuat barang dagangan sampai ratusan ton dan penumpang sekitar dua ratus orang.

Perahu-perahu kecil tanpa cadik atau yang disebut juga dengan perahu jukung, perahu lesung, perahu bertiang tunggal dengan cadik, perahu bertiang tunggal tanpa cadik, perahu dayung tanpa tiang, serta perahu bertiang ganda dengan cadik.

Perkembangan bentuk perahu tradisional Nusantara pada masa ini banyak dipengaruhi dari perahu Jung (layar lebar) dari Cina. Datangnya perahu-perahu Jung dari Cina, teknologi perahu Nusantara tidak hanya menggunakan cadik dan berbentuk sederhana, tapi juga menggunakan layar lebar. Perkembangan selanjutnya perahu yang berada di Nusantara memiliki banyak perbedaan yakni untuk perahu yang digunakan pada masa kerajaan Sriwijaya. Jenis perahu lainnya dari masa Sriwijaya adalah perahu lesung, yaitu perahu yang terbuat dari satu balok kayu besar dan panjang yang dilubangi di bagian tengahnya. Jennis-jenis perahu lesung dari masa kerajaan ini antara lain : perahu lesung yang sangat sederhana, perahu lesung yang dipertinggi dengan cadik, dan perahu lesung yang dipertinggi tanpa cadik. Perahu-perahu ini ada yang dilengkapi dengan tiang tunggal dan ada pula yang dilengkapi dengan tiang ganda.

Perkembangan perahu pada masa kerajaan Sriwijaya sangat pesat

Hal ini dibuktikan bahwa kerajaan Sriwijaya pernah menjadi salah satu kerajaan yang menguasai lautan dan merupakan negara maritim yang disegani pada abad 7M (Reid, 2011:25). Perahu ada masa kerajaan Sriwijaya banyak digunakan sebagai alat trasnportasi laut dan digunakan untuk menagkap ikan di lautan, perahu lesung yang digunakan oleh masyarakat Sriwijaya merupakan sala satu perahu yang dapat dikatakan memiliki teknologi tinggi, karena jenis perahu lesung yang digunakan sudah mampu menjelajahi perairan di sekitar Sumatra dan Kalimantan. Pusat perekonomian kerajaan Sriwijaya berada pada sentral perdagangan yang memanfaatkan laut sebagai penggerak laju ekonomi kerajaayan Sriwijaya, sehingga menjadikan perahu sebagai salah satu alat trasportasi yang memiliki penanan penting bagi kemajuan kerajaan Sriwijaya, selain itu perahu juga digunakan sebagai alat untuk mengangkut para prajurit Sriwijaya dalam upaya melakukan penaklukan daerah-daerah sekitar untuk memperluas kekuasaan kerajaan Sriwijaya.

Selain pada masa kerajaan Sriwijaya yang umunya masyarakatnya sudah mengenal teknik pembuatan perahu yang dapat dgunakan sebagai alat transportasi laut, kerajaan Majapahit juga merupakan sebuah kerajaan besar pada abad 13-15 Masehi yang hampir menguasai hampir seluruh Nusantara dan beberapa daerah di luar Indonesia serta memiliki perdagangan dan pelayaran yang begitu maju.

Perahu-perahu jung pada masa Majapahit ini memiliki berbagai ukuran mulai dari kecil hingga besar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perjalanan yang ditempuh. Perjalanan mencari rempah-rempah ke daerah Ambon, Sumbawa, Flores dan lain-lain, perahu yang digunakan adalah perahu Jung besar dengan bobot ratusan ton. Sedangkan pelayaran dalam wilayah sekitar pulau Jawa menggunakan perahu jung kecil atau perahu jungkung.

Dalam berbagai catatan melayu yang telah ditemukan dalam berbagai sumber tertulis, dapat dijelaskan tentang perkembangan teknologi pelayaran kerajaan Majapahit yang sangat tekenal akan kekuatan maritimnya, seperti yang dijelaskan oleh Nugroho (2011:283) yang menyebutkan bahwa setiap negara rata-rata memiliki 100-200 perahu dengan berbagai tipe dalam setiap ekspedisi, untuk ukuran pedagang kaya hanya memiliki 40 perahu, berbeda dengan Majapahit yang dalam satu ekspedisi mengerahkan hingga 2800 perahu. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa armada laut kerajaan Majapahit sudah dapat dikatakan maju dan tergolong sebagai kerajaan yang menguasai wilayah maritim Nusantara.

 

Artikel terkait :