Model Pembelajaran Dynamic Group

Model Pembelajaran Dynamic Group

Model Pembelajaran Dynamic Group

Model Pembelajaran Dynamic Group

Aktivitas belajar adalah upaya siswa dalam memahami dan menanggapi lingkungannya. Dalam hal ini, lingkungan merupakan stimulus yang memberikan rangsangan kepada siswa untuk menanggapi dalam cara-cara tertentu. Kegiatan untuk menanggapi ini akan optimal jika didukung oleh adanya kebebasan mengemukakan pendapat yang dapat dilakukan oleh setiap siswa. Dengan kata lain, kebebasan yang dimaksud harus dilaksanakan secara bertanggungjawab, dilandasi akan sehat, niat baik, dan norma yang berlaku di masyarakat.

 

Demokrasi yang berasal dari Bahasa Yunani, demos yang artinya rakyat dan krateinyang bermakna pemerintahan. Jadi demokrasi adalah pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat; Dwiyono A. 2003. Untuk keperluan pembelajaran, pembelajaran berbasis demokrasi adalah teknik pembelajaran dari murid, dan untuk murid. Dalam hal ini pembelajaran lebih ditekankan padabagaimana membelajarkan siswa dan bukan pada apa yang dipelajari siswa.

 

Fakta yang telah terjadi bahwa guru melihat dari apa yang telah dipelajari siswa. Cara seperti ini mengakibatkan siswa mengeluh jika dihadapkan pada materi IPA Fisika. Idealnya, untuk dapat memahami suatu konsep fisika diperlukan objek yang konkret dengan melakukan eksplorasi, observasi, manipulasi ide secara mental, dan tidak sekedar hafalan. Dengan demikian penyampaian materi pelajaran perlu dilakukan dengan cara mengajak siswa melakukan sendiri sesuai dengan gaya belajarnya, sehingga ingatannya menjadi lebih abadi daripada mereka dicekoki dengan pengetahuan.

 

Cara belajar yang mengutamakan belajar dengan mengalami sendiri dan belajar dengan mengerjakan (learning by doing) akan menjadikan siswa memiliki pengalaman dalam menemukan konsep. Sehingga siswa tidak menerima secara mentah pengetahuan yang diberikan guru. Siswa diajak mengikuti proses pengetahuan tentang suatu konsep yang dipelajari secara bertahap dan konstruktif sehingga kondisi pembelajaran tidak lagi berada dalam keadaan dipaksakan. Dalam pembelajaran berbasis demokrasi, sistem pembelajaran ditekankan pada kegiatan yang melibatkan semua siswa dengan menekankan cara berpikir kreatif, kritis dalam mengemukakan pendapat, ide maupun gagasan sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki dan keberagaman kecerdasan siswa yang meliputi kecerdasan verbal, matematik, ruang, kinestetik, musikal, kecakapan intrapsikis; Istadi Irawati, 2002.

 

Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan kemudian mengatur, serta mengolah informasi. Untuk siswa yang memiliki kecendrungan gaya belajar visual, belajar dilakukan melalui apa yang dilihat. Siswa yang memiliki kecendrungan gaya belajar auditorial, belajar dilakukan melalui apa yang didengar. Siswa yang memiliki kecendrungan gaya belajar visual, belajar dilakukan dengan melalui apa yang dilihat. Siswa yang memiliki kecendrungan gaya belajar auditorial, belajar dilakukan melalui apa yang didengar. Siswa yang memiliki kecendrungan gaya belajar kinestetik, belajar dilakukan dengan gerak dan sentuhan; Hernacki dan Bobbi dePorter, 2002.

 

Pembentukan dynamic group atau kelompok dinamik pada pembelajaran IPA Fisika menurut Gulo, 2002, memiliki beberapa ciri khusus yaitu: (1) terdapat interaksi antara siswa yang satu dengan siswa lainnya dalam satu kelompok sesuai dengan gaya belajarnya di mana anggota-anggota kelompok tersebut terikat pada pokok pembicaraan tertentu; (2) setiap siswa dalam satu kelompok memiliki tujuan bersama yang jelas, sehingga pada saat pembelajaran berlangsung tidak terjadi disintegrasi; (3) sifat kepemimpinan dalam hal ini tidak harus selalu terpusat pada diri satu siswa ke siswa lainnya, pada saat siswa yang satu berbicara, maka dialah pemimpin pembicaraan di dalam kelompok tersebut. Dengan demikian setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama dalam mengemukakan berbagai ide, gagasan, inspirasi, maupun ketidakcocokan atau kekurangjelasan terhadap materi pembelajaran yang sedang berlangsung; (4) setiap siswa terikat norma yang telah disepakati bersama dan harus ditati oleh setiap anggota kelompok. Ketaatan kelompok pada norma yang dibuat bersama akan mebuat pembelajaran menjadi lebih kohesif dan efisien; (5) setiap siswa di dalam kelompok akan mengalami cetusan-cetusan emosional tertentu diantaranya rasa bosan, kecewa, senang, kesal, tertarik, merasa ditolak, merasa bangga, diterima, semuanya dapat terjadi jika setiap siswa aktif dalam proses pembelajaran. Untuk membina perasaan-perasaan positip, setiap siswa harus mengakui kehadiran sesamanya. Untuk itu guru berfungsi sebagai fasilitator harus menetralisir keadaan dan menstabilkan emosi siswa.

Sumber : https://forbeslux.co.id/