30 Persen Lulusan SMP Putus Sekolah

30 Persen Lulusan SMP Putus Sekolah

30 Persen Lulusan SMP Putus Sekolah

Sekitar 30 persen dari total siswa lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat. Berbagai faktor menjadi penyebab banyaknya siswa yang tidak melanjutkan sekolah. ”Data ini merupakan data tahun lalu, jadi ini rata-rata di Bandung Barat (putus sekolah),” ujar Kepala Bidang Pendidikan SMA Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga KBB Hasanudin kepada wartawan kemarin (28/5).

Sementara, untuk tahun ini, pihaknya bakal berupaya agar tingkat partisipasi lulusan SMP

ke jenjang SMA mencapai 85 persen. Upaya ini dilakukan agar generasi muda dapat terus melanjutkan tingkat pendidikan. ”Kita ingin minimal 85 persen mereka melanjutkan (ke jenjang SMA),” kata dia.

Apalagi, di tahun ini, jumlah lulusan SMP/MTs bertambah 5 ribu siswa dari tahun sebelumnya sebanyak 22 ribu. ”Tahun ini lulusan SMP-nya ada 26.400 siswa,” tambahnya. Saat ini, pihaknya juga bakal berinisiatif bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat terutama di wilayah selatan Bandung Barat seperti Kecamatan Gunung Halu, Sindang Kerta, dan Rongga serta Cipongkor. ”Supaya stigmanya itu bisa berubah, bahwa pendidikan ke SMA dan sederajatnya itu tidak seperti yang lama kebijakannya,” ucap dia.

Pengajuan dari masyarakat ataupun yayasan untuk membangun beberapa sekolah baru seperti SMA

/SMK/MA pun banyak yang datang ke pihaknya. ”Kita apresiasi juga. Karena pemerintah kan juga kesulitan untuk membangun sekolah yang negeri. Makanya kita dorong bagi yayasan yang ingin mendirikan sekolah, itu kita dukung betul,” tambah dia.

Dalam dua tahun belakangan, beberapa SMK sudah dibangun di wilayah selatan Bandung Barat. ”Semoga bisa tertangani seperti persoalan akses ke sekolah agar tidak jauh lagi, tentunya secara bertahap,” ujar dia.

Namun, untuk SMA, memang belum ada yang baru. Namun, sudah ada usulan pembangunan SMA

yang masuk ke pihaknya. ”Memang ada usulan baru dari masyarakat, namanya SMA muslimin Rongga. Kemarin sudah ada usulan yang masuk. Hanya satu dua. Ini dari masyarakat,” tambah dia.

Sementara itu, salah seorang orangtua di Cililin Mira Sutara, 45, mengaku, biaya untuk melanjutkan ke tingkat SMA memang cukup mahal. Terutama, bagi warga yang berada di pelosok daerah dan ekonominya yang kurang mampu. ”Tapi alhamdulillah anak saya kemarin baru lanjut ke tingkat SMA. Cuma tetangga saya ada yang putus sekolah dan tidak dilanjut,” pungkasnya

 

Sumber :

https://blog.fe-saburai.ac.id/sejarah-terbentuknya-bumi/